Mengapa Umat Katolik Berkembang Di Pulau Flores, Pulau Rawan Gempa

Oleh: Narsisius Y. Paus, S.Fil.
Guru Agama Katolik SMAN 2 Langke Rembong

I. Pendahuluan

Pulau Flores adalah salah satu keping tanah paling indah sekaligus paling rentan di Indonesia. Pulau ini terletak persis di jalur pertemuan lempeng tektonik Indo-Australia dengan busur vulkanik Banda, dan diapit oleh sesar naik busur belakang Flores yang membentang dari laut utara Flores hingga laut utara Lombok. Sesar inilah yang berulang kali melahirkan gempa merusak sepanjang sejarah: gempa Flores Utara tahun 1961, gempa Solor-Larantuka tahun 1982, gempa besar Maumere tahun 1992, gempa Manggarai tahun 2003, gempa Larantuka tahun 2021, hingga gempa besar yang kembali mengguncang Flores pada pertengahan Agustus 2026. Para ahli geologi bahkan menyebut kawasan ini sebagai salah satu titik paling aktif secara seismik di Indonesia bagian timur.

Namun di tengah kerapuhan tanahnya, Flores justru dikenal sebagai salah satu kantong Katolik paling padat dan paling subur di dunia. Sekitar tujuh dari sepuluh penduduknya memeluk iman Katolik, gereja-gereja selalu penuh pada hari Minggu, dan seminari-seminari seperti Ledalero di Maumere telah melahirkan ribuan imam yang kini berkarya hingga ke Eropa, Amerika, dan Afrika. Paradoks inilah yang menjadi titik tolak tulisan ini: mengapa iman Katolik justru tumbuh subur, bahkan semakin kokoh, di sebuah pulau yang tanahnya tak pernah benar-benar tenang? Tulisan ini mencoba menelusuri jawabannya melalui sejarah, melalui rangkaian tiga gempa besar yang menandai tiga generasi orang Flores, dan melalui refleksi teologis, biblis, serta pandangan ilmu-ilmu sosial tentang makna bencana bagi kehidupan beriman.

II. Sejarah Awal Masuknya Agama Katolik di Flores

Jejak Katolik di Flores dimulai pada abad ke-16, seiring kedatangan bangsa Portugis yang membawa misi ganda: berdagang rempah dan mewartakan Injil. Pada tahun 1561, Uskup Malaka mengutus empat misionaris Ordo Dominikan untuk mendirikan misi permanen di Pulau Solor, tetangga kecil Flores di sebelah timur. Lima tahun kemudian, Pastor Antonio da Cruz membangun benteng sekaligus seminari di dekat Larantuka. Jumlah umat yang dibaptis tumbuh pesat, dari sekitar dua puluh lima ribu jiwa pada akhir abad ke-16 menjadi lima puluh ribu jiwa dalam waktu kurang dari sepuluh tahun berikutnya.

Ketika VOC merebut benteng Lohayong di Solor pada tahun 1613, para misionaris, sejumlah tentara Portugis, dan sekitar seribu umat beriman mengungsi ke Larantuka. Sejak saat itu Larantuka menjadi jantung Katolik Flores Timur, dikenal kemudian sebagai Kota Reinha, dengan tradisi Semana Santa atau Pekan Suci yang masih dirayakan khidmat hingga kini. Karya pewartaan berlanjut melalui misionaris Yesuit sejak pertengahan abad ke-19, lalu diteruskan oleh Tarekat Serikat Sabda Allah asal Belanda sejak awal abad ke-20, yang membawa iman Katolik menjangkau Sikka, Ende, Ngada, hingga Manggarai di ujung barat pulau.

Dari sudut pandang antropologis, para ahli budaya seperti Pater Paul Arndt, seorang antropolog Jerman yang lama meneliti masyarakat Flores, mencatat bahwa sebelum kedatangan Katolik masyarakat Flores telah memiliki kepercayaan asli berupa penghormatan kepada arwah leluhur dan kekuatan alam. Proses penerimaan iman baru ini tidak menghapus begitu saja kepercayaan lama, melainkan berlangsung melalui inkulturasi: banyak simbol dan ritus lokal, seperti penghormatan kepada leluhur atau ritus tanah, diberi makna baru dalam bingkai iman Katolik. Pendekatan inilah yang membuat Katolik di Flores terasa bukan sebagai agama impor, melainkan telah menyatu dengan identitas budaya setempat.

III. Gempa Tahun 1982 dan Keadaan Umat Katolik

Pada malam Natal, 25 Desember 1982, gempa berkekuatan sekitar 5,9 mengguncang perairan dekat Larantuka, Flores Timur. Guncangan yang disusul gejala tsunami kecil itu menewaskan sedikitnya tiga belas orang, melukai ratusan warga, dan meruntuhkan ribuan rumah di Larantuka, Solor, dan Adonara. Yang khas dari peristiwa ini adalah waktunya: gempa terjadi tepat pada malam perayaan Natal, hari paling sakral bagi umat Katolik Flores Timur, wilayah yang kala itu boleh dikatakan hampir seluruhnya Katolik.

Pada masa itu jumlah umat Katolik di Flores Timur dan Larantuka diperkirakan sudah mencapai hampir seratus persen penduduk setempat, warisan dari empat abad pewartaan sejak zaman Portugis. Paroki-paroki menjadi pusat pertama pertolongan: pastor dan katekis turun langsung mendata korban, gereja dijadikan tempat pengungsian, dan jaringan tarekat religius membantu penyaluran bantuan dari luar pulau. Peristiwa kecil namun menyakitkan ini menjadi semacam latihan awal bagi masyarakat Flores dalam mengelola solidaritas berbasis komunitas gerejawi saat bencana datang, sebuah pola yang kelak akan diuji jauh lebih berat sepuluh tahun kemudian.

IV. Gempa Tahun 1992 dan Perkembangan Umat Katolik

Sabtu siang, 12 Desember 1992, menjadi hari paling kelam dalam sejarah modern Flores. Gempa berkekuatan sekitar 7,8 mengguncang laut sekitar tiga puluh lima kilometer di utara Maumere, memicu tsunami dengan tinggi maksimum mencapai dua puluh enam meter di beberapa titik pesisir timur. Sedikitnya dua ribu lima ratus orang meninggal atau hilang, sembilan puluh ribu warga kehilangan tempat tinggal, delapan belas ribu rumah rata dengan tanah, seratus tiga belas sekolah dan sembilan puluh rumah ibadah hancur. Presiden Soeharto menetapkannya sebagai bencana nasional pertama pada era Orde Baru.

Sikka dan Flores Timur, dua kabupaten yang paling parah terdampak, saat itu adalah basis Katolik yang sangat kuat, dengan proporsi umat mencapai delapan hingga sembilan dari sepuluh penduduk. Kehancuran fisik yang begitu luas nyaris melumpuhkan seluruh infrastruktur keuskupan, namun yang terjadi kemudian justru menguatkan peran Gereja: keuskupan setempat bekerja sama dengan Universitas Katolik Widya Mandira membentuk lembaga teknis yang melatih tukang-tukang lokal, yang kemudian dikenal sebagai tukang misi, untuk membangun kembali rumah tahan gempa pada periode rekonstruksi 1993 hingga 1996. Pengetahuan mitigasi ini diwariskan dari generasi tukang ke generasi berikutnya hingga hari ini.

Dari sisi pertumbuhan umat, dekade pascabencana justru menjadi periode konsolidasi iman yang kuat. Proses membangun kembali rumah, gereja, dan sekolah dilakukan secara gotong royong di bawah koordinasi paroki, sehingga identitas Katolik dan identitas korban penyintas menyatu dalam ingatan kolektif. Bukan kebetulan apabila sejak dekade 1990-an hingga 2000-an jumlah panggilan imamat dan kaum religius asal Flores justru meningkat tajam, seolah pengalaman kehilangan justru melahirkan generasi baru yang memilih menyerahkan hidup sepenuhnya bagi pelayanan Gereja.

V. Gempa Tahun 2026 dan Perkembangan Umat Katolik Saat Ini

Tiga puluh empat tahun setelah tragedi Maumere, sejarah seakan mengulang dirinya. Pada Sabtu, 15 Agustus 2026, gempa berkekuatan sekitar 7,7 kembali mengguncang Flores, getarannya terasa hingga Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami sebelum akhirnya mencabutnya beberapa jam kemudian. Meski skala kerusakan dan korban jiwa pada peristiwa ini tergolong jauh lebih kecil dibandingkan tahun 1992, gempa ini kembali menegaskan bahwa Flores tidak pernah benar-benar lepas dari ancaman sesar aktif yang sama.

Yang menarik, di tengah rentetan gempa yang berulang ini, populasi dan kehidupan menggereja di Flores tidak surut, bahkan terus bertumbuh. Penduduk Pulau Flores tercatat naik dari sekitar 1,87 juta jiwa pada sensus 2020 menjadi lebih dari dua juta jiwa pada pertengahan tahun 2024, dan proporsi umat Katolik tetap bertahan di kisaran tujuh puluh persen. Seminari-seminari di Flores, termasuk Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero, tetap dipadati calon imam, dan lulusannya terus dikirim melayani umat di berbagai benua. Fenomena ini menunjukkan bahwa ketahanan iman umat Flores bukan sekadar bertahan dari gempa ke gempa, melainkan justru menjadikan pengalaman berulang menghadapi bencana sebagai bagian dari identitas rohani mereka: iman yang teruji, dan karena itu, iman yang semakin berakar.

VI. Pandangan Teologis tentang Bencana Alam dan Kaitannya dengan Teodise

Pertanyaan mengapa Allah yang mahabaik dan mahakuasa mengizinkan bencana menimpa umat-Nya sendiri adalah inti dari persoalan teodise, istilah yang diperkenalkan filsuf Gottfried Leibniz untuk menyebut usaha membenarkan kebaikan Allah di tengah adanya penderitaan dan kejahatan di dunia. Santo Agustinus memandang penderitaan bukan sebagai ciptaan Allah, melainkan sebagai privasi atau kekurangan kebaikan yang muncul akibat kehendak bebas ciptaan, sehingga bencana alam tidak serta-merta dapat dibaca sebagai hukuman langsung Allah. Berbeda dengan itu, tradisi teodise Irenian yang kemudian dikembangkan filsuf agama John Hick memandang penderitaan, termasuk bencana alam, sebagai bagian dari proses pembentukan jiwa, sebuah dunia yang penuh tantangan justru diperlukan agar manusia dapat bertumbuh dalam kebajikan dan kedewasaan iman.

Teolog Jerman Karl Rahner memandang penderitaan sebagai misteri yang tidak selalu dapat dijelaskan secara rasional, namun harus diterima dalam sikap penyerahan diri kepada rahmat Allah yang hadir bahkan di titik paling gelap pengalaman manusia. Sementara itu Paus Fransiskus, melalui ensiklik Laudato Si, mengingatkan bahwa sebagian kerawanan bencana juga berkaitan dengan sikap manusia yang mengabaikan keseimbangan ciptaan, sehingga bencana alam sekaligus menjadi ajakan bagi pertobatan ekologis, bukan semata soal murka ilahi.

Dari sudut pandang sosiologi agama, Peter Berger menjelaskan bahwa agama berfungsi sebagai kanopi suci yang memberi makna dan tatanan atas kekacauan hidup manusia; ketika bencana meruntuhkan tatanan itu secara harfiah, agamalah yang membantu masyarakat menyusun kembali makna dari reruntuhan tersebut. Émile Durkheim menambahkan bahwa pengalaman krisis bersama justru dapat memperkuat solidaritas sosial dan kesadaran kolektif kelompok beriman, sebuah dinamika yang secara nyata tampak dalam cara umat Flores berkumpul dan saling menopang setiap kali gempa datang. Para antropolog yang meneliti masyarakat Flores pascabencana turut mencatat bahwa ritual keagamaan dan adat, seperti misa requiem bersama dan gotong royong membangun kembali kampung, berfungsi sebagai jembatan yang menyatukan trauma personal menjadi pengalaman komunal yang dapat dijalani bersama.

VII. Pandangan Biblis tentang Bencana Alam dan Kaitannya dengan Runtuhnya Menara Babel

Kitab Kejadian pasal sebelas mengisahkan manusia yang bersatu membangun menara menjulang ke langit demi mengukuhkan nama dan kekuasaan mereka sendiri. Allah kemudian mengacaubalaukan bahasa mereka dan mencerai-beraikan mereka ke seluruh muka bumi. Ahli tafsir Perjanjian Lama Gerhard von Rad membaca kisah ini bukan pertama-tama sebagai kisah hukuman semata, melainkan sebagai narasi etiologis yang menjelaskan asal-usul keberagaman bangsa dan bahasa, sekaligus titik peralihan menuju kisah panggilan Abraham yang membuka sejarah keselamatan universal.

Bila dibaca secara reflektif, keruntuhan menara Babel dapat dipahami sebagai simbol tentang batas kemampuan manusia dan bahaya kesombongan membangun sesuatu tanpa menyertakan Allah. Gempa-gempa yang berulang meruntuhkan bangunan-bangunan megah di Flores dapat direnungkan dengan semangat yang sama, bukan sebagai bukti murka ilahi atas dosa tertentu, melainkan sebagai pengingat akan kerapuhan segala yang dibangun manusia dan pentingnya kerendahan hati di hadapan kekuatan alam ciptaan Allah. Menariknya, sama seperti kisah Babel yang berujung pada tersebarnya manusia ke seluruh bumi, pengalaman berulang menghadapi gempa di Flores justru turut menyertai tersebarnya para imam dan misionaris asal Flores ke berbagai penjuru dunia, sebuah pola pencerai-beraian yang bukan kutukan, melainkan perutusan.

Kisah Babel juga mendapat gaung baliknya dalam Perjanjian Baru, ketika peristiwa Pentakosta pada Kisah Para Rasul pasal dua menampilkan para rasul berbicara dalam berbagai bahasa yang justru dipahami oleh semua orang dari berbagai bangsa. Banyak teolog membaca Pentakosta sebagai pembalikan kutukan Babel, di mana perpecahan bahasa disatukan kembali oleh karya Roh Kudus. Selain itu, Kitab Suci juga mengenal gempa bukan hanya sebagai bencana, melainkan sebagai tanda kehadiran Allah, seperti dalam kisah Nabi Elia di Gunung Horeb, ketika Allah justru tidak hadir dalam angin besar, gempa, atau api, melainkan dalam suara angin sepoi-sepoi yang lembut. Ayat ini kerap digunakan para pengkhotbah di Flores untuk mengingatkan umat bahwa Allah tidak identik dengan bencana itu sendiri, tetapi hadir dalam kelembutan pendampingan sesudahnya.

VIII. Teologi Harapan di Balik Bencana Alam

Teolog Jürgen Moltmann, melalui karyanya tentang teologi harapan, menegaskan bahwa iman Kristiani pada dasarnya adalah iman yang berorientasi ke depan, bertumpu pada janji kebangkitan Kristus yang menembus segala bentuk kematian dan kehancuran. Bagi Moltmann, harapan bukanlah pelarian dari penderitaan, melainkan daya dorong aktif untuk terlibat mengubah dan membangun kembali dunia yang terluka. Pandangan ini selaras dengan teologi salib yang menegaskan bahwa Allah sendiri turut menderita bersama umat-Nya, hadir dalam reruntuhan, dan dari situ pula kebangkitan serta pembaruan hidup dimungkinkan.

Dalam konteks Flores, teologi harapan ini tampak nyata setiap kali gereja-gereja yang runtuh dibangun kembali, setiap kali seminari terus menerima calon imam baru meski trauma gempa belum sepenuhnya pulih, dan setiap kali umat memilih merayakan Ekaristi di tengah puing sebagai tanda bahwa iman tidak pernah runtuh bersama bangunan. Para sosiolog bencana, di antaranya Enrico Quarantelli yang meneliti pola pemulihan pascabencana di berbagai belahan dunia, mencatat bahwa jaringan komunitas keagamaan umumnya menjadi salah satu modal sosial paling efektif dalam mempercepat pemulihan pascabencana, karena struktur paroki menyediakan kepemimpinan, ruang berkumpul, dan jaringan bantuan yang sudah mapan jauh sebelum bencana terjadi.

Dari sisi antropologi, ritus-ritus peringatan dan pembangunan kembali tempat ibadah dapat dibaca sebagai praktik memori kolektif yang mengubah luka menjadi narasi ketahanan lintas generasi. Anak-anak Flores masa kini tumbuh mendengar kisah gempa 1992 bukan sekadar sebagai catatan kelam, melainkan sebagai kisah tentang bagaimana leluhur mereka bangkit bersama iman yang tidak pernah padam. Harapan semacam inilah yang menjelaskan mengapa setiap kali tanah Flores berguncang, Gereja di sana tidak menyusut, melainkan justru menemukan alasan baru untuk memperkokoh akar imannya.

IX. Penutup

Sejarah Flores menunjukkan sebuah pola yang konsisten sejak kedatangan misionaris Portugis pada abad ke-16 hingga gempa besar terbaru pada tahun 2026: setiap kali tanah berguncang dan bangunan runtuh, iman umat Katolik di pulau ini justru semakin tertanam dalam kehidupan sosial dan budayanya. Hal ini bukan berarti bencana adalah berkat yang harus disyukuri secara naif, atau bahwa penderitaan boleh dibiarkan tanpa upaya mitigasi yang sungguh-sungguh. Justru sebaliknya, pengalaman panjang berhadapan dengan gempa mengajarkan masyarakat Flores untuk memadukan dua hal sekaligus, yaitu kesiapsiagaan teknis yang semakin baik dan kedalaman spiritual yang terus diasah lewat solidaritas paroki, refleksi teologis tentang penderitaan, dan harapan eskatologis akan kebangkitan.

Pandangan teologis tentang teodise mengajak umat untuk tidak buru-buru menuding bencana sebagai hukuman. Pandangan biblis tentang Menara Babel mengingatkan akan kerapuhan segala yang dibangun manusia sekaligus kemungkinan tersebarnya berkat justru lewat pencerai-beraian. Dan teologi harapan meyakinkan bahwa reruntuhan bukanlah kata akhir. Dipadukan dengan temuan sosiologi dan antropologi tentang peran agama sebagai perekat sosial dan penyedia makna di tengah krisis. Dapat disimpulkan bahwa umat Katolik Flores berkembang bukan sekalipun berada di atas tanah yang rawan gempa, melainkan justru karena telah belajar, dari generasi ke generasi, untuk membangun kembali rumah, gereja, dan imannya di atas tanah yang sama, dengan harapan yang tidak pernah runtuh.

Daftar Rujukan

Badan Nasional Penanggulangan Bencana; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika; ensiklopedia sejarah gempa Flores 1982, 1992, dan 2026; kajian sejarah misi Katolik di Flores dan Solor; tulisan reflektif tentang teologi bencana, teodise, teologi harapan Jürgen Moltmann, teologi salib, sosiologi agama Peter Berger dan Émile Durkheim, sosiologi bencana Enrico Quarantelli, serta tafsir Kitab Kejadian pasal sebelas oleh Gerhard von Rad.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Berita Lainnya

  • Ilustrasi

    Fobia Gempa

    • Jumat, 21 Agustus 2026

    Cerpen karya Narsisius Y. Paus Sejak gempa besar itu mengguncang kampung mereka tiga bulan lalu, sekolah tidak lagi terasa seperti dulu. Dinding-dinding kelas yang retak sudah ditambal seadanya, tetapi retak di hati sebagian anak-anak belum sepenuhnya sembuh. Lani, salah satu murid kelas XI, adalah salah satu dari mereka yang paling terpukul. Setiap kali angin berembus […]

    Selengkapnya »
  • Pengumuman Lapor Diri / Daftar Ulang Online SMAN 2 Langke Rembong

    Pengumuman Lapor Diri / Daftar Ulang Online SMAN 2 Langke Rembong

    • Sabtu, 20 Juni 2026

    Diinformasikan kepada seluruh Murid yang telah dinyatakan diterima bahwa proses Lapor Diri / Daftar Ulang akan dilaksanakan Secara online pada: Tanggal: 22–23 Juni 2026 Waktu: 09.00–16.00 WITA Murid yang telah berhasil melakukan lapor diri dan mencetak bukti lapor diri, wajib membawa bukti tersebut ke Sekolah Pilihan untuk dilakukan proses verifikasi. Detil Panduan Daftar Ulang Demikian […]

    Selengkapnya »
  • Anggota DPRD NTT Sosialisasikan Pergub Nomor 24 Tahun 2026 di SMAN 2 Langke Rembong

    Anggota DPRD NTT Sosialisasikan Pergub Nomor 24 Tahun 2026 di SMAN 2 Langke Rembong

    • Sabtu, 18 Juli 2026

    sman2langkerembong.sch.id – Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dari Fraksi Partai Golkar, Simprosa Rianasari Gandut, yang akrab disapa Osy Gandut, melaksanakan kunjungan kerja ke Kabupaten Manggarai pada Jumat (17/7/2026). Salah satu agenda utamanya adalah mengunjungi SMAN 2 Langke Rembong untuk menyosialisasikan regulasi terbaru di bidang pendidikan. Kedatangan Osy Gandut disambut hangat oleh kepala sekolah, […]

    Selengkapnya »
  • Tim guru dan murid berfoto bersama sebelum pertandingan sepak bola pembuka.

    Seru, Pertandingan Dalam Rangka HUT Ke-81 Kemerdekaan RI

    • Kamis, 13 Agustus 2026

    sman2langkerembong.sch.id – Dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, SMAN 2 Langke Rembong menyelenggarakan pertandingan sepak bola dan bola voli yang berlangsung selama tiga hari, mulai Kamis hingga Sabtu (13-15/8/2026). Dalam arahan pembukaan, Plt. Kepala SMAN 2 Langke Rembong Valens  Jebagu mengajak para murid agar memaknai HUT Kemerdekaan RI dengan memaksimalkan potensi yang dimiliki […]

    Selengkapnya »
  • Foto bersama Kabid SMK Dindikbud Provinsi NTT Ayub Sanam bersama Kacab, Korwas, Ketua MKKS, dan para kepala SMA/SMK se-Kabupaten Manggarai usai rapat koordinasi di SMAN 2 Langke Rembong.

    Bahas Pembelajaran di Masa Darurat, Kabid SMK Dindikbud NTT Kumpulkan Kepala SMA/SMK se-Manggarai di SMAN 2 Langke Rembong

    • Selasa, 25 Agustus 2026

    Bahas Pembelajaran di Masa Darurat, Kabid SMK Dindikbud NTT Kumpulkan Kepala SMA/SMK se-Manggarai di SMAN 2 Langke Rembong sman2langkerembong.sch.id – Kepala Bidang (Kabid) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Ayub Sanam, menghadirkan para Kepala Cabang Dinas, Koordinator Pengawas, Ketua MKKS SMA dan SMK, serta seluruh kepala SMA […]

    Selengkapnya »
  • Fashion Show Bernuansa Budaya NTT Semarak di SMA Negeri 2 Langke Rembong Manggarai

    Fashion Show Bernuansa Budaya NTT Semarak di SMA Negeri 2 Langke Rembong Manggarai

    • Sabtu, 13 Agustus 2022

    SMA Negeri 2 Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, menggelar perlombaan fashion show dengan mengenakan busana bermotif khas daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 13 Agustus 2022. Kegiatan ini merupakan salah satu lomba yang diwajibkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT dalam rangka menyambut HUT ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia. Selain fashion show, seluruh SMA dan […]

    Selengkapnya »