Fobia Gempa

Ilustrasi
Cerpen karya Narsisius Y. Paus
Sejak gempa besar itu mengguncang kampung mereka tiga bulan lalu, sekolah tidak lagi terasa seperti dulu. Dinding-dinding kelas yang retak sudah ditambal seadanya, tetapi retak di hati sebagian anak-anak belum sepenuhnya sembuh. Lani, salah satu murid kelas XI, adalah salah satu dari mereka yang paling terpukul. Setiap kali angin berembus agak kencang menggoyangkan atap seng, tubuhnya menegang, napasnya memburu, dan tangannya gemetar mencengkeram meja.
“Kenapa lagi, Lani?” tanya Saskia suatu pagi, ketika melihat sahabatnya tiba-tiba pucat dan berkeringat dingin saat sebuah truk besar lewat di depan sekolah, menggetarkan lantai kelas.
Lani hanya menggeleng, matanya nanar menatap langit-langit seolah menunggu sesuatu runtuh. Kiran, yang duduk di bangku belakang, buru-buru mendekat sambil membawa botol minum.
“Minum dulu, Lan. Tarik napas pelan-pelan. Kita masih di sini, kok. Sekolah kita aman sekarang,” ujar Kiran dengan suara menenangkan, seperti biasa ia menjadi penengah di antara teman-temannya.
Jois yang sejak tadi diam di sudut kelas akhirnya angkat bicara. “Lani, aku paham perasaanmu. Waktu gempa itu, aku juga sempat tidak bisa tidur berhari-hari. Tapi kita tidak bisa terus-menerus hidup dalam ketakutan. Trauma itu wajar, tapi kita harus belajar berdamai dengannya,” katanya sambil duduk di samping Lani.
Lani menunduk. Ia teringat malam itu, ketika tanah tiba-tiba berguncang hebat, lampu-lampu padam, dan jeritan orang-orang memenuhi udara. Rumah tetangganya, Bapak Yos, roboh dalam hitungan detik. Suara reruntuhan dan tangisan masih terngiang jelas di kepalanya. Sejak saat itu, setiap getaran sekecil apa pun membangkitkan kembali bayang-bayang malam mengerikan tersebut.
“Aku takut, Jo. Aku takut kalau tiba-tiba gempa lagi, dan kali ini giliran kita yang tidak sempat menyelamatkan diri,” bisik Lani, suaranya bergetar menahan tangis.
Saskia menggenggam tangan Lani erat-erat. “Kamu tidak sendirian, Lani. Kita berempat sudah janji sejak dulu, apa pun yang terjadi, kita saling menjaga. Ingat waktu kita kelas sepuluh? Kita bilang kita seperti gendang one lingko peang, satu lingkaran yang saling menopang.”
Ucapan Saskia mengingatkan mereka pada nilai kebersamaan yang selama ini mereka pegang teguh, sebuah semangat lonto leok, duduk melingkar untuk saling mendengar dan meneguhkan, yang diwariskan leluhur mereka di tanah Manggarai. Nilai itu bukan sekadar pelajaran budaya di sekolah, melainkan cara hidup yang mereka praktikkan setiap hari, termasuk hari ini, ketika salah satu dari mereka sedang rapuh.
Guru Pendidikan Agama Katolik mereka, Bapak Frans, kebetulan melintas dan mendengar percakapan itu. Ia masuk ke kelas dan duduk di depan keempat murid tersebut. “Anak-anak, ketakutan setelah bencana itu manusiawi. Bahkan Yesus sendiri pernah merasa gentar menghadapi penderitaan-Nya di Taman Getsemani. Tetapi Ia tidak sendirian menghadapinya; Ia berdoa, dan murid-murid-Nya menemani meskipun akhirnya mereka tertidur. Nah, kalian jangan seperti murid-murid yang tertidur itu. Jadilah sahabat yang benar-benar hadir bagi Lani,” katanya lembut.
Kata-kata itu menenangkan hati Lani sedikit demi sedikit. Kiran mengusulkan agar mereka membentuk semacam kelompok kecil, tempat mereka bisa saling bercerita tentang ketakutan masing-masing tanpa merasa dihakimi. “Kita sebut saja Sahabat Nai Ca Anggit, satu hati satu rasa. Setiap pulang sekolah, kita duduk sebentar, cerita, lalu saling mendoakan,” usulnya.
Hari-hari berikutnya, kebiasaan itu benar-benar mereka jalankan. Setiap sore, keempat sahabat itu duduk di bawah pohon flamboyan di halaman sekolah yang masih menyisakan bekas retakan tanah. Mereka bercerita, kadang tertawa, kadang menangis bersama. Perlahan, Lani mulai bisa mengendalikan napasnya ketika mendengar suara gemuruh. Ia belajar teknik pernapasan yang diajarkan oleh Kiran, yang pernah mendapat materi kesiapsiagaan bencana dari kakak OSIS.
Namun ujian sesungguhnya datang lebih cepat dari yang mereka duga. Suatu siang, ketika sekolah sedang melaksanakan simulasi kesiapsiagaan bencana, tiba-tiba tanah benar-benar bergetar. Bukan simulasi. Getarannya nyata, cukup kuat hingga beberapa genteng berjatuhan dari atap ruang laboratorium yang belum sempat diperbaiki sepenuhnya sejak gempa sebelumnya.
“Gempa! Ini beneran!” teriak seseorang dari koridor.
Jantung Lani seketika berdegup kencang. Kakinya seolah membeku di tempat, persis seperti malam mengerikan tiga bulan lalu. Namun kali ini, Saskia segera meraih tangannya. “Lani, lihat aku! Kita jalan bersama, satu, dua, tiga, jangan lari sendiri!” serunya sambil menariknya menuju titik kumpul di lapangan terbuka, persis seperti yang diajarkan dalam simulasi.
Kiran dengan sigap membantu adik kelas yang terjatuh karena panik, sementara Jois berteriak mengarahkan teman-teman lain agar tidak berdesakan di pintu keluar. Dalam kepanikan itu, tanpa disadari, Lani justru ikut menenangkan seorang siswa kelas sepuluh yang menangis ketakutan di sampingnya. “Tenang, dik. Kita jalan pelan-pelan, jangan lari, ikut aku,” katanya, suaranya sendiri masih gemetar, tetapi kali ini ia tidak membeku.
Ketika akhirnya semua siswa berkumpul dengan selamat di lapangan dan getaran mereda, Lani jatuh terduduk, napasnya masih terengah, tetapi ada sesuatu yang berbeda kali ini. Ia berhasil bergerak. Ia berhasil membantu orang lain, bukan hanya dikuasai ketakutannya sendiri.
Saskia memeluknya erat. “Kamu hebat, Lani. Kamu tidak lari dari ketakutanmu, kamu melewatinya.”
Bapak Frans, yang ikut mengevakuasi murid-murid, mendekati mereka berempat. “Lihat, anak-anak, gempa bisa merobohkan bangunan, bisa membuat nyawa melayang dalam sekejap. Tapi ia tidak bisa merobohkan kasih dan kebersamaan yang kalian rawat setiap hari. Justru dari peristiwa seperti inilah kita belajar bahwa hidup ini rapuh, tetapi persaudaraan membuat kita kuat menghadapinya.”
Sore itu, ketika matahari mulai turun di ufuk barat Manggarai, keempat sahabat itu duduk kembali di bawah pohon flamboyan, kali ini dengan hati yang lebih lapang. Lani menatap langit yang mulai jingga, dan untuk pertama kalinya sejak gempa besar itu, ia tersenyum tanpa dibayangi rasa takut.
“Terima kasih, ya. Kalian yang membuatku berani lagi,” katanya pelan.
Kiran tersenyum. “Itulah gunanya sahabat, Lani. Nai ca anggit, tuka ca leleng, satu hati, satu rasa. Selama kita saling menopang, badai apa pun bisa kita lewati bersama.”
Angin sore berembus lembut, menerbangkan dedaunan kering di sekitar mereka. Tidak ada lagi getaran yang mereka takutkan sore itu, hanya empat hati yang kian erat terikat, belajar bahwa di tengah kerapuhan hidup, kasih dan kebersamaan adalah tempat berlindung yang paling kokoh.
SELESAI

Suka dengan cerpennya pak 🙏🤗
21 Agustus 2026 9:37 pm