Titik Temu Pemikiran Niccolò Machiavelli dan Prabowo Subianto

Foto : Ilustrasi
Sebuah Refleksi tentang Kekuasaan, Kehendak, dan Kepemimpinan
Oleh: Narsisius Y. Paus, S.Fil., Gr.
I. Pendahuluan
Kekuasaan selalu menjadi tema abadi dalam sejarah pemikiran manusia. Sejak zaman Yunani kuno hingga era demokrasi digital hari ini, pertanyaan tentang bagaimana kekuasaan diperoleh, dipertahankan, dan digunakan tidak pernah kehilangan relevansinya. Salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam mengurai logika kekuasaan adalah Niccolò Machiavelli, filsuf politik Renaisans Italia yang karyanya, Il Principe (Sang Pangeran), hingga kini masih diperdebatkan sebagai buku panduan realpolitik yang jujur, sekaligus dituduh sebagai manifesto kelicikan politik.
Di Indonesia, sosok Prabowo Subianto — mantan perwira tinggi TNI yang kini menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia — kerap dikaitkan dengan gagasan-gagasan tentang kekuatan, ketegasan, dan kehendak untuk memimpin. Perjalanan panjangnya dari dunia militer, melalui beberapa kali pencalonan presiden yang berujung kekalahan, hingga akhirnya terpilih sebagai kepala negara pada tahun 2024, menampilkan pola pikir tentang kekuasaan yang menarik untuk dibaca berdampingan dengan pemikiran Machiavelli.
Tulisan opini ini berupaya menelusuri titik temu antara pemikiran Machiavelli tentang kehendak untuk berkuasa (will to power) dan cara pandang Prabowo Subianto tentang kekuasaan dan kepemimpinan. Tujuannya bukan untuk menyamakan keduanya secara serampangan, melainkan untuk membaca pola-pola pemikiran yang mirip, sekaligus merenungkan relevansinya bagi generasi muda hari ini, yaitu Generasi Z dan Generasi Alpha, yang akan mewarisi wajah politik Indonesia di masa depan.
II. Profil Niccolò Machiavelli
Niccolò Machiavelli lahir di Firenze, Italia, pada 3 Mei 1469, dan wafat pada 21 Juni 1527. Ia hidup pada masa Renaisans, ketika kota-kota di Italia terpecah dalam persaingan kekuasaan antarnegara-kota, dan intervensi kekuatan asing seperti Prancis dan Spanyol membuat stabilitas politik semenanjung Italia sangat rapuh. Machiavelli mengabdi sebagai pejabat pemerintahan Republik Firenze, terutama dalam urusan diplomatik dan militer, sebelum akhirnya disingkirkan ketika keluarga Medici kembali berkuasa pada tahun 1512.
Pengalaman politik yang getir itulah yang melahirkan karya monumentalnya, Il Principe, yang ditulis sekitar tahun 1513 sebagai semacam persembahan sekaligus nasihat kepada penguasa Medici. Machiavelli menulis bukan dari ruang kontemplasi filsuf yang jauh dari kekuasaan, melainkan dari pengalaman langsung menyaksikan bagaimana penguasa naik dan jatuh. Karena itu pemikirannya bercorak sangat pragmatis dan empiris, bukan normatif-idealis seperti banyak filsuf politik sebelumnya.
Machiavelli sering dijuluki sebagai “bapak ilmu politik modern” karena ia adalah salah satu pemikir pertama yang secara tegas memisahkan etika dari politik praktis, menganalisis kekuasaan apa adanya (das Sein), bukan sebagaimana seharusnya (das Sollen).
Pemikiran Machiavelli tentang Kehendak untuk Berkuasa
Meskipun istilah “will to power” secara harfiah lebih populer dikaitkan dengan Friedrich Nietzsche pada abad ke-19, gagasan tentang kehendak untuk berkuasa sesungguhnya telah hidup jauh sebelumnya dalam pemikiran Machiavelli. Dalam Il Principe, Machiavelli menegaskan bahwa penguasa yang efektif harus mampu menyesuaikan diri dengan keadaan, bahkan bila itu berarti mengabaikan prinsip moral konvensional, demi menjaga stabilitas dan kelangsungan kekuasaan negara.
Machiavelli memperkenalkan konsep virtù, yakni keutamaan atau kecakapan seorang pemimpin dalam bertindak tegas, cerdik, dan berani mengambil risiko, yang harus disandingkan dengan kesadaran akan fortuna, yaitu keberuntungan atau keadaan yang berada di luar kendali manusia. Bagi Machiavelli, pemimpin besar adalah mereka yang mampu menaklukkan fortuna melalui virtù — kehendak dan kecakapan aktif untuk membentuk nasib, bukan sekadar pasrah menerimanya.
Gagasan yang paling sering disalahpahami adalah bahwa “tujuan menghalalkan cara”. Machiavelli sesungguhnya tidak menyatakan hal itu secara gamblang, namun ia menekankan bahwa penguasa harus lebih ditakuti daripada dicintai apabila tidak bisa memiliki keduanya sekaligus, karena cinta rakyat mudah goyah sedangkan rasa takut lebih dapat dikendalikan. Ini adalah bentuk kehendak untuk berkuasa yang realistis: kekuasaan dijaga bukan dengan idealisme semata, melainkan dengan kalkulasi yang dingin atas sifat manusia.
III. Profil Prabowo Subianto
Prabowo Subianto lahir di Jakarta pada 17 Oktober 1951, dari keluarga terpandang. Ayahnya, Sumitro Djojohadikusumo, adalah seorang ekonom dan mantan menteri, sementara kakeknya turut mendirikan Bank Negara Indonesia. Prabowo menempuh pendidikan militer di Akademi Militer Nasional dan meniti karier panjang di Tentara Nasional Indonesia, hingga mencapai pangkat Letnan Jenderal dan memimpin satuan-satuan elite seperti Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dan Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad).
Kariernya di dunia militer berakhir kontroversial pada 1998, di tengah gejolak reformasi yang menumbangkan pemerintahan Orde Baru. Setelah itu, Prabowo membangun kekuatan politik baru melalui Partai Gerindra yang didirikannya pada 2008, dan mencalonkan diri sebagai presiden maupun wakil presiden sebanyak 4 kali (2009, 2014, 2019, 2024) sebelum akhirnya memenangkan Pemilihan Presiden 2024 bersama Gibran Rakabuming Raka, dan dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia pada 20 Oktober 2024.
Perjalanan panjang penuh kekalahan dan kebangkitan ini membentuk citra Prabowo sebagai sosok yang gigih, tidak mudah menyerah, dan memiliki daya tahan politik yang luar biasa — sebuah kisah yang oleh sebagian pengamat dibaca sebagai contoh nyata dari kehendak untuk berkuasa yang dijalankan secara konsisten selama lebih dari dua dekade.
Pemikiran Prabowo tentang Kekuasaan
Dalam berbagai pidato dan tulisannya, termasuk buku Paradoks Indonesia yang ia susun, Prabowo kerap menekankan gagasan tentang kekuatan nasional, kedaulatan, dan ketegasan kepemimpinan sebagai syarat mutlak bagi bangsa yang ingin bertahan di tengah persaingan global. Ia berulang kali menegaskan pentingnya kepemimpinan yang kuat dan tegas, terutama dalam isu pertahanan, kedaulatan pangan, dan kemandirian ekonomi, sebagai jalan untuk melepaskan Indonesia dari apa yang ia sebut sebagai “jebakan” ketergantungan pada kekuatan asing.
Latar belakang militer Prabowo turut membentuk gaya kepemimpinannya yang menonjolkan disiplin, komando, dan loyalitas hierarkis. Dalam berbagai kesempatan sebagai Presiden, ia menegaskan agenda menekan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan sebagai bagian dari visi “kesejahteraan rakyat yang berkeadilan”, sembari tetap menempatkan stabilitas nasional dan pertahanan sebagai prioritas utama.
Perlu dicatat secara jujur bahwa pandangan publik terhadap gaya kekuasaan Prabowo tidaklah tunggal. Sebagian pihak memuji ketegasannya sebagai kekuatan yang dibutuhkan Indonesia di tengah dinamika geopolitik yang tidak menentu; sebagian lain mengkritisi rekam jejaknya di masa lalu terkait isu hak asasi manusia serta gaya kepemimpinan yang dianggap terlalu terpusat pada figur personal. Kedua pandangan ini sama-sama menjadi bagian dari wacana publik yang sehat dan perlu diperhitungkan dalam menilai pemikirannya tentang kekuasaan.
IV. Titik Temu Pemikiran Keduanya
Membaca Machiavelli dan Prabowo secara berdampingan, ditemukan sejumlah titik temu yang menarik, meskipun keduanya hidup di zaman dan konteks yang jauh berbeda.
Pertama, keduanya sama-sama menempatkan realisme di atas idealisme. Machiavelli menolak menulis tentang “negara ideal” yang tidak pernah ada, dan memilih menganalisis kekuasaan sebagaimana adanya. Prabowo pun kerap menampilkan diri sebagai pemimpin yang berbicara tentang ancaman nyata dan kepentingan nasional secara langsung, alih-alih retorika normatif belaka.
Kedua, keduanya menekankan pentingnya ketegasan dan kekuatan (virtù dalam istilah Machiavelli) sebagai syarat kepemimpinan yang efektif, terutama di tengah situasi krisis atau ketidakpastian. Bagi Machiavelli, penguasa yang ragu-ragu akan kalah oleh fortuna; bagi Prabowo, bangsa yang lemah akan kalah oleh tekanan kekuatan asing.
Ketiga, keduanya memiliki pengalaman personal dengan kejatuhan dan kebangkitan kekuasaan. Machiavelli menulis Il Principe setelah disingkirkan dari jabatannya; Prabowo membangun kembali kekuatan politiknya setelah pemberhentian dari militer pada 1998 dan serangkaian kekalahan pemilu. Pengalaman jatuh-bangun ini tampaknya membentuk cara pandang keduanya bahwa kekuasaan harus diperjuangkan dengan gigih, bukan menunggu diberikan.
Keempat, keduanya menekankan pentingnya persepsi publik dalam mempertahankan kekuasaan. Machiavelli menulis panjang lebar tentang bagaimana penguasa harus tampak bajik di mata rakyat meski tidak selalu bertindak demikian; dalam konteks modern, Prabowo pun dikenal piawai membangun citra publik — dari sosok tegas bergaya militer, hingga figur yang belakangan menampilkan sisi lebih hangat dan merakyat.
Meski demikian, penting untuk tidak menyamaratakan keduanya secara berlebihan. Machiavelli menulis dalam konteks negara-kota Renaisans yang penuh intrik dan tanpa kerangka demokrasi modern, sedangkan Prabowo memimpin di era demokrasi konstitusional dengan mekanisme checks and balances, kebebasan pers, dan pemilu berkala. Titik temu keduanya lebih tepat dibaca sebagai kemiripan pola pikir tentang hakikat kekuasaan, bukan sebagai kesamaan sistem atau nilai secara keseluruhan.
V. Relevansi bagi Generasi Z dan Generasi Alpha
Generasi Z dan Generasi Alpha tumbuh dalam dunia yang jauh berbeda dari zaman Machiavelli maupun awal karier Prabowo: dunia yang serba transparan, algoritmik, dan cepat berubah, di mana informasi tentang pemimpin — baik prestasi maupun kelemahannya — dapat menyebar dalam hitungan detik melalui media sosial. Dalam konteks inilah pemikiran keduanya tetap relevan, meskipun perlu dibaca secara kritis.
Pertama, gagasan tentang virtù mengajarkan generasi muda pentingnya kecakapan aktif dan ketangguhan dalam menghadapi ketidakpastian, alih-alih pasrah pada keadaan. Di tengah dunia kerja yang berubah cepat akibat otomasi dan kecerdasan buatan, sikap proaktif membentuk nasib sendiri menjadi bekal yang sangat relevan.
Kedua, kisah jatuh-bangun Prabowo dapat menjadi pelajaran tentang daya tahan (resilience) dalam menghadapi kegagalan berulang, sebuah nilai yang sangat dibutuhkan generasi muda yang kerap menghadapi tekanan untuk sukses secara instan di tengah budaya media sosial yang serba cepat dan kompetitif.
Ketiga, sekaligus menjadi peringatan penting: generasi Z dan Alpha perlu belajar membaca kekuasaan secara kritis, tidak mudah terpukau oleh citra maupun narasi tunggal tentang pemimpin. Machiavelli sendiri menulis untuk membongkar, bukan menutup-nutupi, cara kerja kekuasaan — sikap kritis semacam ini justru selaras dengan literasi digital dan literasi politik yang perlu dimiliki generasi muda hari ini, agar mampu membedakan ketegasan yang membangun dari otoritarianisme yang mengekang kebebasan sipil.
Dengan demikian, pemikiran Machiavelli dan Prabowo dapat menjadi bahan refleksi ganda bagi generasi muda: di satu sisi belajar tentang keberanian, ketegasan, dan daya juang; di sisi lain belajar untuk senantiasa mengawal kekuasaan agar tetap berpihak pada kesejahteraan bersama dan tidak tergelincir menjadi kekuasaan demi kekuasaan itu sendiri.
VI. Penutup
Machiavelli dan Prabowo Subianto berdiri di dua panggung sejarah yang sangat berbeda, namun keduanya bertemu pada satu simpul pemikiran yang sama: bahwa kekuasaan bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan sesuatu yang harus direbut, dijaga, dan dipertahankan dengan kehendak, kecakapan, dan keberanian menghadapi ketidakpastian zaman.
Namun demikian, kekuasaan sejati tidak boleh berhenti pada dirinya sendiri. Ia harus terus diarahkan pada tujuan yang lebih luhur, yakni kesejahteraan dan martabat manusia. Di sinilah pemikiran Machiavelli dan jejak langkah Prabowo perlu ditempatkan secara jernih: bukan sebagai teladan tanpa cela untuk ditiru mentah-mentah, melainkan sebagai cermin untuk merenungkan hakikat kekuasaan itu sendiri — bahwa ketegasan tanpa nurani akan runtuh, dan idealisme tanpa keberanian akan layu sebelum berkembang.
Bagi generasi Z dan generasi Alpha yang kelak akan memegang kendali bangsa ini, pelajaran terpenting bukanlah meniru gaya kekuasaan siapa pun secara membabi buta, melainkan menimba kebijaksanaan dari sejarah untuk membangun kepemimpinan yang tegas sekaligus berhati nurani, kuat sekaligus rendah hati, berani sekaligus bijaksana.
Daftar Referensi
Machiavelli, N. (1532). Il Principe (The Prince). Firenze.
Skinner, Q. (1981). Machiavelli: A Very Short Introduction. Oxford: Oxford University Press.
Viroli, M. (1998). Machiavelli. Oxford: Oxford University Press.
Berlin, I. (1972). “The Originality of Machiavelli”, dalam Against the Current: Essays in the History of Ideas. London: Hogarth Press.
Subianto, P. (2019). Paradoks Indonesia. Jakarta: Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) & Gerindra.
Britannica. “Prabowo Subianto | Biography, Career, & Facts.” Diakses September 2026, dari www.britannica.com.
Sekretariat Presiden Republik Indonesia. (2026). “Pidato Presiden Prabowo Subianto pada World Economic Forum Annual Meeting 2026, Davos, Swiss.” presidenri.g

Saat ini belum ada komentar