TKA Guru SMA se-Manggarai: Langkah Strategis Mengukur dan Memetakan Mutu Pendidik

Para guru SMA se-Kabupaten Manggarai mengerjakan TKA Guru Mata Pelajaran Wajib berbasis digital di SMA Negeri 2 Langke Rembong, Jumat (2/10/2026).
RUTENG – Sebanyak 183 guru SMA se-Kabupaten Manggarai mengikuti Tes Kompetensi Akademik (TKA) Guru Mata Pelajaran Wajib, yakni Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris, yang digelar serentak di SMA Negeri 2 Langke Rembong (Smandu), Jumat, 2 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk mengukur dan memetakan mutu pendidik, sekaligus berlangsung di tengah masa darurat gempa bumi yang menuntut kesiapan teknis ekstra.
Mengapa Smandu Dipilih?
Smandu ditetapkan sebagai lokasi pelaksanaan berdasarkan berbagai pertimbangan teknis dan pertimbangan lainnya yang mendukung terlaksananya kegiatan, sehingga kendala selama masa darurat gempa bumi dapat diminimalkan.
Plt. Kepala SMAN 2 Langke Rembong Valentinus Vitalis Jebagu, S.Ag.,M.Th., menyambut pilihan itu dengan gembira.
“Saya sangat senang dan antusias terhadap dipilihnya SMAN 2 sebagai tempat berlangsungnya TKA guru. Ini tentunya menggambarkan bahwa sekolah ini selalu ada di hati banyak pihak,” ujarnya.
Bagaimana Sekolah Bersiap?
Menurut Plt. Kepala Sekolah, pihaknya bergerak cepat begitu mendapat informasi penunjukan tersebut. Koordinasi internal dilakukan, ruangan dan fasilitas pendukung disiapkan, dan petugas teknis ditugaskan agar kegiatan berjalan lancar.
“Begitu mendapatkan informasi bahwa sekolah kita dipilih, maka kita siap dan bergerak cepat. Dan puji Tuhan, semuanya terlaksana sesuai rencana,” lanjutnya.
Selain itu, Operator sekaligus teknisi media digital SMANDU Langke Rembong Deddy Nagul, S.Kom menambahkan bahwa Plt. Kepala SMAN 2 Langke Rembong memberikan dukungan yang sangat baik terhadap pelaksanaan kegiatan ini. Sekolah juga berupaya menyiapkan fasilitas, tempat, perangkat, jaringan, serta dukungan teknis agar kegiatan dapat berjalan dengan tertib dan lancar. “Sebagai lokasi TUK, kami juga melihat bahwa pelaksanaan berbasis digital memberikan pengalaman yang cukup positif. Penggunaan platform dan media digital membuat proses pemetaan menjadi lebih terstruktur dan efisien. Namun, tentu masih terdapat beberapa aspek teknis yang perlu terus diperhatikan, terutama terkait kesiapan perangkat, stabilitas jaringan, akses ke platform, serta pendampingan teknis bagi peserta apabila mengalami kendala.”kata beliau. “Kami mengapresiasi BGTK Nusa Tenggara Timur yang telah menyelenggarakan kegiatan Pemetaan Kompetensi Guru ini dengan memanfaatkan Platform Schoolmedia. Harapan kami, kegiatan ini tidak hanya berhenti pada proses pemetaan dan menghasilkan data kompetensi guru, tetapi dapat dilanjutkan dengan tindak lanjut yang nyata. Hasil pemetaan diharapkan dapat menjadi dasar untuk merancang program peningkatan kompetensi guru yang lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing,” harapnya. Guru yang kreatif, idealis sekaligus realistis-inovatif ini menambahkan bahwa ke depan, mungkin dapat dikembangkan sebuah sistem yang tidak hanya memberikan hasil pemetaan, tetapi juga menyediakan rekomendasi pengembangan kompetensi secara personal. Misalnya, guru yang hasil pemetaannya menunjukkan kebutuhan penguatan pada kompetensi tertentu dapat memperoleh rekomendasi pelatihan, materi belajar, webinar, komunitas belajar, atau program pengembangan profesional yang relevan. Terobosan lainnya adalah pemanfaatan AI dan analitik data untuk membantu membaca hasil pemetaan secara lebih mendalam sehingga dapat menghasilkan profil kompetensi guru, kebutuhan pengembangan, serta rekomendasi program yang lebih tepat sasaran. “Kami juga berharap Platform Schoolmedia terus dikembangkan agar semakin mudah digunakan, responsif, stabil, dan dapat memberikan pengalaman asesmen digital yang nyaman bagi guru di berbagai daerah, termasuk daerah dengan keterbatasan infrastruktur jaringan,” kata guru yang biasa disapa Dedy ini penuh keyakinan.
Sementara itu, bagi SMAN 2 Langke Rembong, menjadi salah satu TUK dalam kegiatan ini juga merupakan bentuk dukungan sekolah terhadap program peningkatan kompetensi guru dan transformasi pendidikan berbasis digital.

Suasana pelaksanaan TKA Guru di ruang Tempat Uji Kompetensi (TUK) SMA Negeri 2 Langke Rembong.
Tanggapan Pengawas: Hasil TKA Harus Ditindaklanjuti
Koordinator Pengawas SMA/SMK se-Kabupaten Manggarai, I Gede Caya Widhyartha, S.Pd., Kim, menilai pelaksanaan TKA di Smandu merupakan bagian penting dari upaya pemerintah memperoleh gambaran yang lebih objektif mengenai capaian kompetensi. Respons guru beragam: ada yang melihatnya sebagai tantangan baru, ada pula yang menyambutnya positif karena hasilnya dapat menjadi bahan refleksi untuk memperbaiki pembelajaran.
Ia mengapresiasi dukungan para guru serta kesiapan Plt. Kepala Sekolah dan seluruh jajaran Smandu dalam menyiapkan peserta, sarana, dan aspek teknis lainnya. Meski sistem dan media yang digunakan masih perlu terus dievaluasi dan disempurnakan, pemanfaatan teknologi dalam asesmen dinilainya sebagai langkah positif karena membiasakan sekolah dengan asesmen berbasis digital. Syaratnya, sistem harus mudah diakses, stabil, adil, transparan, dan tidak menimbulkan beban teknis yang mengganggu peserta.
Ke depan, ia berharap TKA tidak hanya dipandang sebagai tes untuk menghasilkan nilai, tetapi menjadi instrumen yang memberi informasi bermakna bagi peningkatan mutu pendidikan. Ia mendorong terobosan dalam pemanfaatan hasil TKA:
- Data hasil TKA diolah menjadi peta kompetensi dan peta kebutuhan pembelajaran di sekolah, sehingga terlihat kompetensi yang sudah kuat dan yang perlu diperbaiki.
- Hasil TKA diintegrasikan dengan data mutu pendidikan lainnya sebagai dasar penyusunan program peningkatan mutu yang tepat sasaran.
- Asesmen dikembangkan agar mampu melihat peserta secara utuh, tidak hanya kemampuan akademik, tetapi juga penalaran, pemecahan masalah, komunikasi, kolaborasi, dan penerapan pengetahuan dalam kehidupan nyata.
“Intinya, TKA hendaknya menjadi cermin untuk melihat kualitas pembelajaran, bukan sekadar angka,” tegasnya.
Respons Guru Positif
Pengawas SMA se-Kabupaten Manggarai, Aventinus Heppy Kakuk, S.Pd., menambahkan bahwa berdasarkan hasil pantauan, respons guru baik. Peserta merasa mudah mengerjakan soal lewat telepon seluler, dan aplikasi yang digunakan sangat mudah diakses. Para guru mata pelajaran lain juga berharap mata pelajaran pilihan dapat diikutsertakan dalam ujian serupa untuk mengasah kompetensi mereka.
Skor Tinggi dari Guru Bahasa Inggris
Di antara peserta, seorang guru Bahasa Inggris mencuri perhatian. Ia meraih nilai 82 pada sesi pertama dan 95 pada sesi kedua, yang diselesaikannya hanya dalam 20 menit.
“Ini tentu sangat menggembirakan. Ini guru genius di SMAN 2 Langke Rembong. Sayangnya, dia masih dalam proses untuk pindah ke Kupang,” komentar seorang guru Smandu yang tidak bersedia disebutkan namanya.

Saat ini belum ada komentar