Kitab Suci, Penerang Masa Depan Gen Z dan Gen Alfa

Sebuah Refleksi dalam Rangka Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026

Oleh: Narsisius Y. Paus, S.Fil.
Guru Agama Katolik SMAN 2 Langke Rembong

Pendahuluan

Dunia hari ini bergerak dengan kecepatan yang belum pernah dialami generasi sebelumnya. Teknologi digital, arus informasi tanpa batas, dan budaya global yang serba instan telah mengubah cara manusia berpikir, berelasi, dan memaknai hidup. Di tengah kemajuan itu, muncul pula paradoks yang menggelisahkan: semakin canggih teknologi, semakin banyak pula anak muda yang kehilangan arah, mengalami kecemasan, kesepian di tengah keramaian digital, dan krisis identitas.

Media sosial menawarkan koneksi tanpa henti, namun sering kali meninggalkan kehampaan batin. Nilai-nilai kebenaran menjadi relatif, kebenaran dianggap sekadar opini, dan yang viral lebih dipercaya daripada yang benar. Dalam situasi inilah pertanyaan mendasar muncul kembali: ke mana generasi muda—khususnya Gen Z dan Gen Alfa—akan mencari terang untuk menata masa depan mereka? Gereja, melalui Kitab Suci, meyakini bahwa Sabda Allah tetap relevan sebagai kompas hidup, sebagaimana termaktub dalam Mazmur.

Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.  (Mazmur 119:105)

Konsili Vatikan II dalam konstitusi dogmatis tentang Wahyu Ilahi menegaskan bahwa Kitab Suci bukan sekadar dokumen sejarah, melainkan sabda Allah yang hidup dan berdaya guna bagi setiap zaman.

Dalam kitab-kitab suci, Bapa yang di surga menyongsong putra-putri-Nya dengan penuh kasih sayang.  (Dei Verbum, art. 21)

Mengenal Gen Z

Generasi Z adalah mereka yang lahir kurang lebih antara tahun 1997 hingga 2012. Generasi ini tumbuh sebagai digital native sejati—lahir dan besar bersama internet, gawai pintar, dan media sosial. Karakter Gen Z umumnya ditandai oleh beberapa hal khas: kreatif dan adaptif terhadap teknologi, terbuka terhadap keberagaman, peduli pada isu-isu sosial dan lingkungan, namun di sisi lain juga rentan mengalami kecemasan, tekanan citra diri, dan kesulitan membangun relasi mendalam secara tatap muka.

Gen Z cenderung haus akan makna dan otentisitas. Mereka mudah curiga terhadap institusi formal, termasuk lembaga keagamaan, namun tetap merindukan sesuatu yang dapat dipercaya dan memberi pegangan hidup. Paus Fransiskus, dalam seruannya kepada kaum muda, mengingatkan bahwa kegelisahan mencari makna hidup sesungguhnya adalah pintu masuk bagi Sabda Allah.

Jangan biarkan masa mudamu direnggut oleh mereka yang ingin membuatmu bosan dan menghilangkan mimpi-mimpimu.  (Paus Fransiskus, Christus Vivit, art. 143 (parafrase))

Ciri khas ini menunjukkan bahwa Gen Z sesungguhnya bukan generasi yang anti terhadap nilai rohani, melainkan generasi yang mencari cara baru untuk menghayatinya—cara yang otentik, relevan, dan tidak sekadar formalitas.

Mengenal Gen Alfa

Generasi Alfa adalah anak-anak yang lahir mulai sekitar tahun 2013 hingga pertengahan 2020-an, generasi pertama yang sepenuhnya lahir di abad kecerdasan buatan dan layar sentuh. Sejak usia dini mereka telah akrab dengan tablet, asisten digital, dan pembelajaran daring. Karakter Gen Alfa ditandai oleh kecepatan berpikir visual, kemampuan multitasking tinggi, namun juga rentang perhatian yang lebih pendek serta kecenderungan bergantung pada teknologi untuk hiburan maupun belajar.

Generasi ini dibentuk dalam dunia yang serba cepat dan instan, sehingga berisiko kehilangan kesabaran dalam proses pertumbuhan iman yang biasanya membutuhkan keheningan, refleksi, dan pengulangan. Para ahli pendidikan iman menekankan pentingnya menanamkan kebiasaan rohani sejak dini, sebelum pola pikir instan sepenuhnya membentuk cara mereka memandang dunia, termasuk cara mereka memandang Tuhan.

Teolog Romano Guardini pernah mengingatkan bahwa pembentukan liturgis dan rohani anak sejak usia dini menentukan kedalaman imannya di masa dewasa, sebab kebiasaan berdoa dan mendengarkan Sabda yang ditanam sejak kecil akan menjadi akar yang menopang badai hidup di kemudian hari.

Kitab Suci: Terang bagi Masa Depan Gen Z dan Gen Alfa

Di tengah derasnya informasi dan kaburnya batas kebenaran, Kitab Suci hadir bukan sebagai buku kuno yang usang, melainkan sebagai sabda yang senantiasa hidup dan menyapa setiap zaman. Surat kepada Jemaat Ibrani menegaskan hal ini dengan tegas.

Sabda Allah hidup dan kuat, lebih tajam dari pedang bermata dua mana pun.  (Ibrani 4:12)

Bagi Gen Z yang haus akan otentisitas, Kitab Suci menawarkan kisah-kisah nyata tentang pergulatan iman, keraguan, kejatuhan, dan kebangkitan tokoh-tokohnya—bukan citra yang dipoles, melainkan kejujuran hidup manusia di hadapan Allah. Bagi Gen Alfa yang tumbuh dalam budaya visual dan cepat, kisah-kisah Kitab Suci dapat menjadi narasi hidup yang membentuk imajinasi moral mereka sejak dini, menanamkan nilai kejujuran, kasih, dan pengampunan melalui cerita yang mudah diingat.

Santo Hieronimus, penerjemah Alkitab ke dalam bahasa Latin, meninggalkan sebuah pesan yang hingga kini menjadi semboyan Gereja dalam mendekatkan umat kepada Sabda Allah.

Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus.  (Santo Hieronimus)

Paus Benediktus XVI, dalam anjuran apostolik pasca-Sinode tentang Sabda Allah, menegaskan bahwa Gereja dipanggil untuk terus-menerus membaharui semangatnya dalam mewartakan Sabda kepada generasi baru, agar terang Injil tidak pernah padam ditelan zaman.

Gereja hidup dari Sabda Allah, dan Sabda Allah harus senantiasa menjadi dasar hidup dan perutusan Gereja.  (Paus Benediktus XVI, Verbum Domini, art. 1 (parafrase))

Dengan demikian, Kitab Suci bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan kompas masa depan. Ia menawarkan kepada Gen Z kedalaman makna di tengah kedangkalan digital, dan kepada Gen Alfa akar kebiasaan rohani di tengah budaya serba cepat—dua hal yang sama-sama dibutuhkan untuk membangun generasi yang tangguh secara iman dan karakter.

Sekolah Memulai Pelajaran dengan Membaca Teks Kitab Suci

Menyadari besarnya tantangan zaman, sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memiliki peran strategis dalam menanamkan kebiasaan rohani sejak dini. Salah satu langkah sederhana namun bermakna adalah membiasakan setiap kegiatan belajar-mengajar dimulai dengan pembacaan singkat teks Kitab Suci, diikuti hening sejenak atau refleksi pendek sebelum pelajaran dimulai.

Kebiasaan ini bukan sekadar ritual formal, melainkan cara membentuk disiplin batin peserta didik: melatih mereka untuk berhenti sejenak dari kebisingan digital, mendengarkan Sabda, dan mengarahkan hati sebelum menerima ilmu pengetahuan. Praktik ini sejalan dengan semangat pedagogi Ignasian yang menempatkan keheningan dan refleksi sebagai bagian tak terpisahkan dari proses belajar yang utuh, menyentuh akal budi sekaligus hati.

Ketika Gen Z dan Gen Alfa dibiasakan mengawali hari dengan Sabda Allah, mereka perlahan dilatih untuk menjadikan Kitab Suci bukan sebagai buku pelajaran agama semata, melainkan sahabat hidup sehari-hari yang menemani setiap langkah dan keputusan, sebagaimana pemazmur mengungkapkan kerinduannya.

Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari.  (Mazmur 119:97)

Sekolah, dengan demikian, tidak hanya menjadi tempat transfer pengetahuan, tetapi juga ladang pembentukan karakter dan iman, tempat generasi muda belajar menimba terang dari Sabda sebelum melangkah menghadapi tantangan dunia yang kian kompleks.

Penutup

Gen Z dan Gen Alfa hidup di persimpangan zaman yang penuh peluang sekaligus ancaman. Kemajuan teknologi dapat menjadi berkat jika diarahkan oleh nilai yang benar, namun dapat pula menjadi jerat jika dibiarkan tanpa kompas moral dan rohani. Dalam momentum Bulan Kitab Suci Nasional 2026 ini, Gereja mengajak seluruh umat, khususnya kaum muda dan anak-anak, untuk kembali menimba terang dari Sabda Allah.

Kitab Suci bukan buku yang menua dimakan zaman, melainkan pelita yang terus menyala menerangi setiap generasi, termasuk generasi yang lahir di tengah layar dan algoritma. Semoga melalui pembiasaan membaca, merenungkan, dan menghidupi Sabda—baik di rumah, di gereja, maupun di sekolah—Gen Z dan Gen Alfa mampu menemukan arah hidup yang kokoh, berakar pada terang abadi Sabda Allah, sebagaimana pesan Kitab Suci sendiri.

Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.  (Matius 24:35)

 

Daftar Referensi

Alkitab. Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), berbagai edisi terjemahan.

Konsili Vatikan II. (1965). Dei Verbum: Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi.

Paus Benediktus XVI. (2010). Verbum Domini: Anjuran Apostolik Pasca-Sinode tentang Sabda Allah dalam Kehidupan dan Perutusan Gereja.

Paus Fransiskus. (2019). Christus Vivit: Anjuran Apostolik kepada Kaum Muda dan Segenap Umat Allah.

Guardini, R. (1998). The Spirit of the Liturgy. Terjemahan berbagai bahasa.

Komisi Kitab Suci Konferensi Waligereja Indonesia. Pedoman Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026.

Twenge, J. M. (2017). iGen: Why Today’s Super-Connected Kids Are Growing Up Less Rebellious, More Tolerant, Less Happy—and Completely Unprepared for Adulthood. Atria Books.

McCrindle, M. (2021). Generation Alpha: Understanding Our Children and Helping Them Thrive. Hachette Australia.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Berita Lainnya

  • Mengapa Umat Katolik Berkembang Di Pulau Flores, Pulau Rawan Gempa

    Mengapa Umat Katolik Berkembang Di Pulau Flores, Pulau Rawan Gempa

    • Rabu, 19 Agustus 2026

    Oleh: Narsisius Y. Paus, S.Fil.Guru Agama Katolik SMAN 2 Langke Rembong I. Pendahuluan Pulau Flores adalah salah satu keping tanah paling indah sekaligus paling rentan di Indonesia. Pulau ini terletak persis di jalur pertemuan lempeng tektonik Indo-Australia dengan busur vulkanik Banda, dan diapit oleh sesar naik busur belakang Flores yang membentang dari laut utara Flores […]

    Selengkapnya »
  • Foto :PLT Kepala SMAN 2 Langke Rembong bersama para Wakasek saat memimpin pertemuan bersama guru dan pegawai.

    SMA Negeri 2 Langke Rembong Gelar Rapat Terbatas, Bahas Skenario Pembelajaran di Tengah Kondisi Darurat

    • Kamis, 3 September 2026

    sman2langkerembong.sch.id— SMAN 2 Langke Rembong menggelar rapat terbatas untuk membahas penyesuaian skenario pembelajaran di tengah kondisi darurat serta keterbatasan ruang kelas yang tersedia. Rapat ini menjadi langkah sekolah dalam memastikan proses pembelajaran tetap berjalan dengan mengutamakan keselamatan seluruh warga sekolah. Rapat tersebut merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya yang telah membahas persiapan skenario pembelajaran dalam […]

    Selengkapnya »
  • Foto : Stefanus E. Jehadu, S.Fil

    Menjadi Agen Perubahan Kecil di Tengah Komunitas Sendiri

    • Selasa, 4 Agustus 2026

    1.Pendahuluan Di tengah derasnya arus perubahan dunia pendidikan, masih ada satu kebiasaan yang diam-diam menghambat kemajuan sekolah, yaitu budaya menunggu. Menunggu petunjuk teknis dari pemerintah, menunggu program dari dinas pendidikan, menunggu arahan kepala sekolah, bahkan menunggu izin untuk sekadar mencoba strategi pembelajaran yang lebih inovatif. Akibatnya, tidak sedikit guru memilih bertahan di zona nyaman, menjalankan […]

    Selengkapnya »
  • Pengumuman Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027

    Pengumuman Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027

    • Jumat, 5 Juni 2026

    sman2langkerembong.sch.id – Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) untuk Tahun Ajaran 2026/2027. Program ini ditujukan bagi calon siswa yang ingin mendapatkan pendidikan berkualitas dengan lingkungan belajar modern dan berbasis kompetensi. SPMB tahun ini dibuka untuk beberapa jalur pendaftaran, yaitu jalur Zonasi, jalur prestasi Akademik dan Non Akademik, jalur afirmasi dan Perpindahan Orang Tua. Setiap jalur memiliki […]

    Selengkapnya »
  • Anggota DPRD NTT Sosialisasikan Pergub Nomor 24 Tahun 2026 di SMAN 2 Langke Rembong

    Anggota DPRD NTT Sosialisasikan Pergub Nomor 24 Tahun 2026 di SMAN 2 Langke Rembong

    • Sabtu, 18 Juli 2026

    sman2langkerembong.sch.id – Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dari Fraksi Partai Golkar, Simprosa Rianasari Gandut, yang akrab disapa Osy Gandut, melaksanakan kunjungan kerja ke Kabupaten Manggarai pada Jumat (17/7/2026). Salah satu agenda utamanya adalah mengunjungi SMAN 2 Langke Rembong untuk menyosialisasikan regulasi terbaru di bidang pendidikan. Kedatangan Osy Gandut disambut hangat oleh kepala sekolah, […]

    Selengkapnya »
  • Narsisius Y. Paus, S.Fil., Gr. | Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti — SMA Negeri 2 Langke Rembong

    Pentingnya Menjadi Guru dan Murid yang Konsisten

    • Selasa, 11 Agustus 2026

    PENDAHULUAN Dalam dunia pendidikan, kompetensi dan kecerdasan sering dianggap sebagai penentu utama keberhasilan seorang guru maupun murid. Namun ada satu kualitas yang jauh lebih sunyi namun jauh lebih menentukan, yaitu konsistensi. Konsistensi adalah kesetiaan pada hal-hal kecil yang dilakukan berulang-ulang, hari demi hari, sampai ia membentuk karakter. Guru yang konsisten mendidik bukan hanya dengan kata, […]

    Selengkapnya »