Cerpen, Cinta Setengah Badan Otak Setengah Dewa

Ilustrasi
Di kelas XII IPA 1, ada satu meja panjang di sudut perpustakaan yang selalu dipenuhi empat kursi dan empat buku yang tak pernah sama. Andin, Evan, Carla, dan Dimas duduk di sana hampir setiap sore, ketika matahari sudah lelah dan cahayanya jatuh miring lewat kaca jendela, menimpa halaman-halaman buku tentang lubang hitam, kecerdasan buatan, dan teori kuantum yang mereka baca bergantian, saling menyodorkan catatan seperti menyodorkan potongan hati yang tak berani diucapkan.
Mereka berempat adalah anak-anak yang oleh guru-guru disebut “cemerlang”, oleh teman-teman disebut “aneh karena rajin”, dan oleh diri mereka sendiri, diam-diam, disebut keluarga kedua. Sejak kelas sepuluh mereka selalu bersama—mengikuti lomba karya tulis ilmiah, begadang menyusun makalah tentang eksplorasi antariksa, berdebat soal etika kecerdasan buatan sampai penjaga sekolah mengetuk pintu perpustakaan dan mengusir mereka pulang.
Namun di balik segala kecerdasan itu, ada satu ruang yang tak sanggup mereka taklukkan dengan logika: hati mereka sendiri.
Andin diam-diam menyukai Evan. Ia hafal cara Evan menggigit ujung pena ketika berpikir keras, hafal nada suaranya saat membacakan puisi Rilke di depan kelas, hafal bagaimana Evan selalu menyisakan potongan terakhir kue untuknya tanpa pernah menyadari bahwa gerakan kecil itu telah membuat Andin terjaga semalaman, menulisnya diam-diam di halaman belakang buku catatan fisika, lalu menghapusnya lagi sebelum siapa pun melihat.
Evan sendiri tak pernah tahu. Matanya, kalau boleh jujur pada dirinya sendiri, selalu tertuju pada Carla—pada caranya tertawa pelan sambil menutup mulut dengan punggung tangan, pada caranya membaca kitab-kitab lama dengan mata berbinar seperti sedang menatap sesuatu yang jauh lebih besar dari dunia ini. Evan menyukai keteduhan itu, ketenangan yang seperti biara di tengah keramaian remaja yang gaduh.
Tetapi Carla, dengan segala keteduhannya, menyimpan namanya sendiri di hati: Dimas. Ia menyukai cara Dimas berbicara tentang cita-citanya menjadi dokter sekaligus pastor, tentang bagaimana ia ingin menyembuhkan tubuh dan jiwa manusia sekaligus, seolah dua dunia yang biasanya berjarak bisa didekatkan oleh satu orang saja. Carla mendengarkan Dimas bicara dengan mata yang tak berkedip, meski ia tak pernah membiarkan Dimas tahu betapa dalam ia mendengarkan.
Dan Dimas—Dimas yang paling banyak diam di antara mereka berempat, yang lebih suka menulis daripada bicara—diam-diam menyukai Andin. Ia menyukai caranya berargumen dengan tenang namun tajam, cara Andin selalu bisa menenangkan perdebatan yang memanas hanya dengan satu kalimat, seperti seorang diplomat kecil yang belum tahu bahwa suatu hari ia akan benar-benar menjadi diplomat. Dimas menulis banyak sekali surat untuk Andin di buku hariannya. Tak satu pun pernah dikirim.
Begitulah lingkaran itu berputar—Andin kepada Evan, Evan kepada Carla, Carla kepada Dimas, Dimas kepada Andin—empat hati yang saling mengejar bayang-bayang yang tak pernah menoleh ke belakang. Cinta yang berjalan searah jarum jam, tak pernah bertemu, hanya berpapasan dalam diam di lorong-lorong sekolah, dalam tatapan yang buru-buru dialihkan, dalam debar yang buru-buru disembunyikan di balik pembicaraan tentang teori relativitas dan struktur DNA.
Mereka menyebut diri mereka “Klub Empat Semesta”—nama konyol yang lahir dari sebuah malam ketika mereka begadang membahas teori multiverse sambil makan mi instan di rumah Dimas. Di klub itu tak ada rahasia soal cita-cita. Andin ingin menjadi ahli komunikasi dan diplomat, membawa suara negaranya ke meja-meja perundingan dunia. Evan ingin menjadi uskup, menuntun umat dengan kata-kata yang menenangkan seperti liturgi pagi hari. Carla ingin menjadi biarawati, menyerahkan hidupnya pada keheningan dan doa. Dimas ingin menjadi pastor sekaligus dokter, merawat tubuh yang sakit dan jiwa yang luka dalam satu tangan yang sama.
Cita-cita mereka begitu tinggi, begitu jauh dari kelaziman remaja kebanyakan, sehingga banyak yang menertawakan. Tapi mereka berempat tahu satu hal yang orang lain tak tahu: bahwa otak yang cerdas dan hati yang penuh cinta bukanlah dua hal yang saling meniadakan. Mereka menjuluki diri mereka sendiri, sambil tertawa getir, “setengah badan otak, setengah dewa”—separuh diri mereka sibuk dengan rumus dan teori, separuh lagi diam-diam merindukan seseorang yang tak akan pernah mereka miliki.
Malam kelulusan datang seperti angin yang tiba-tiba berubah arah. Di halaman sekolah yang dihiasi lampu-lampu kecil, mereka berempat berdiri berdekatan, memandangi langit yang dipenuhi bintang seperti serpihan mimpi yang belum sempat mereka gapai. Andin ingin sekali menggenggam tangan Evan malam itu. Evan ingin sekali mengatakan sesuatu pada Carla. Carla ingin sekali menuliskan namanya sendiri di samping nama Dimas dalam buku kenangan. Dimas ingin sekali membacakan salah satu surat yang tak pernah dikirim itu kepada Andin.
Tapi tak satu pun dari mereka melakukannya. Mereka hanya berpelukan, keempatnya sekaligus, tangan saling bertaut membentuk lingkaran kecil di tengah malam yang luas, dan berjanji akan tetap saling mendukung ke mana pun jalan hidup membawa mereka.
Guru pembimbing mereka, pak Nar pernah berkata dalam sebuah rapat bahwa keempat murid itu adalah “anak-anak yang berpikir seperti ilmuwan tapi merindu seperti penyair.” Ia tak sepenuhnya salah. Di balik nilai-nilai sempurna dan piala lomba yang berjajar di lemari kaca sekolah, tersimpan empat buku harian berisi larik-larik yang tak pernah dibacakan pada siapa pun—larik tentang mata yang menatap terlalu lama, tentang tangan yang nyaris bersentuhan saat menyerahkan buku, tentang doa-doa kecil yang dipanjatkan diam-diam agar seseorang menoleh, walau hanya sekali.
Tahun-tahun berlalu seperti halaman buku yang dibalik angin. Andin kuliah hubungan internasional di Jakarta, lalu melanjutkan studi ke Eropa. Evan masuk seminari, menempuh jalan panjang menuju imamat. Carla memasuki biara di pinggiran kota, belajar keheningan yang dulu hanya bisa ia bayangkan lewat buku. Dimas menjalani pendidikan kedokteran sambil diam-diam terus membaca teologi di sela-sela jadwalnya yang padat.
Mereka tetap berkirim surat—surat sungguhan, bukan pesan singkat—karena mereka berempat sepakat bahwa tulisan tangan menyimpan jenis kejujuran yang tak bisa ditiru oleh layar mana pun. Dalam surat-surat itu mereka bercerita tentang buku-buku baru yang dibaca, tentang penelitian yang sedang dikerjakan, tentang kerinduan pada perpustakaan sekolah dan meja panjang di sudut ruangan. Tapi tak satu pun dari mereka pernah menulis tentang apa yang sesungguhnya mereka rasakan dulu. Cinta itu telah mereka kubur baik-baik, seperti biji yang sengaja tak disiram agar tak tumbuh dan mengganggu jalan yang telah mereka pilih.
Sebab pada akhirnya, jalan yang mereka pilih memang bukan jalan cinta yang biasa. Panggilan yang tumbuh diam-diam di hati mereka masing-masing—panggilan pada Tuhan, pada pelayanan, pada pengabdian yang lebih luas daripada satu nama kekasih—ternyata jauh lebih kuat daripada rindu yang mereka pendam sejak SMA. Barangkali cinta yang tak pernah terucap itu, pada akhirnya, adalah cara Tuhan mengajari mereka mencintai sesuatu yang lebih besar.
Belasan tahun kemudian, di sebuah konferensi internasional tentang etika kecerdasan buatan yang diselenggarakan sebuah universitas di Roma, empat undangan istimewa duduk di baris depan. Duta Besar Andin, yang kini dikenal sebagai diplomat piawai yang sering menjembatani perundingan-perundingan sulit antarnegara, hadir mewakili delegasinya. Monsinyur Evan, yang telah lama ditahbiskan menjadi uskup di sebuah keuskupan kecil di Eropa Barat, diundang sebagai pembicara soal moralitas teknologi. Suster Carla, pemimpin komunitas biara yang dikenal karena karya-karya tulisnya tentang spiritualitas dan sains, hadir sebagai narasumber. Dan Romo Dimas, pastor sekaligus dokter yang mendirikan klinik amal bagi para migran di pinggiran kota Roma, duduk di antara mereka, mengenakan jubah hitam yang sama sederhananya dengan senyumnya.
Ketika mereka berempat bertemu kembali di lorong gedung konferensi yang dingin dan berlangit-langit tinggi, waktu seperti melipat dirinya sendiri. Mereka bukan lagi remaja yang dulu duduk di meja perpustakaan, tetapi di mata masing-masing, mereka masih bisa melihat sisa-sisa anak SMA yang dulu diam-diam saling mencintai tanpa berani mengucapkannya.
“Kalian masih ingat,” kata Andin pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh derap langkah para peserta konferensi, “julukan kita dulu? Setengah badan otak, setengah dewa?”
Evan tersenyum, senyum yang sudah jauh lebih tenang daripada senyum remajanya dulu. “Sekarang aku pikir kita memang jadi setengah dewa yang sesungguhnya—hanya saja dewa yang kita maksud bukan dewa mitologi, melainkan panggilan yang lebih tinggi dari diri kita sendiri.”
Carla menunduk sejenak, seperti sedang berdoa dalam hati sebelum bicara. “Dan mungkin,” katanya, “cinta yang dulu tak sempat kita ucapkan, sebenarnya tidak pernah hilang. Ia hanya berubah bentuk. Sekarang aku mencintai setiap orang yang datang ke biara dengan hati yang patah, seperti dulu aku mencintai seseorang dalam diam.”
Dimas, yang paling sedikit bicara di antara mereka, hanya mengangguk. Namun malam itu, sepulang dari konferensi, ia membuka kembali sebuah buku catatan lama yang selalu dibawanya ke mana pun—buku yang menyimpan surat-surat yang tak pernah dikirim kepada Andin. Ia membacanya sekali lagi di bawah cahaya lampu meja yang temaram, lalu menutupnya perlahan, tersenyum sendu, dan meletakkannya kembali di rak, di antara kitab suci dan buku-buku kedokteran, sebagai satu-satunya saksi dari cinta yang telah dengan sukarela ia relakan pergi.
Di luar jendela biara tempat Carla tinggal, bintang-bintang Roma berkelip seperti dulu bintang-bintang di halaman sekolah mereka berkelip, menyaksikan empat remaja yang saling mencintai tanpa suara. Cinta mereka tak pernah berakhir dengan pernikahan atau janji sehidup semati, tetapi juga tak pernah benar-benar mati. Ia hanya menemukan rumah yang lain—dalam doa yang dipanjatkan setiap subuh, dalam tangan yang mengobati luka orang-orang asing, dalam kata-kata yang menenangkan jemaat yang gelisah, dalam perundingan-perundingan yang mencegah perang.
Dan barangkali, di situlah letak keindahan yang paling menyakitkan sekaligus paling menyembuhkan dari kisah mereka: bahwa tidak semua cinta harus berujung pada kebersamaan untuk disebut cinta sejati. Kadang cinta yang paling agung adalah cinta yang direlakan, yang diubah menjadi pengabdian, yang dibiarkan tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri—setengah badan yang dulu berpikir dengan otak yang cemerlang, dan setengah jiwa yang akhirnya benar-benar menjelma menjadi dewa kecil bagi mereka yang membutuhkan.
Narsisius Y. Paus, S.Fil.
Guru Agama Katolik dan Budi Pekerti, SMAN 2 Langke Rembong

Saat ini belum ada komentar