Puisi, Ada Tiada Ada

Ilustrasi
Bel telah berbunyi, pagi menepuk pintu kelas,
kursi-kursi terisi, papan tulis menanti kapur,
seragam rapi berbaris di dalam ruang,
tetapi ada yang hadir hanya raganya.
Guru berdiri di depan, suara mengalun tawar,
mata menatap jendela, bukan menatap murid,
murid duduk diam, pandangan entah ke mana,
ada di sekolah, tapi tak satu pun benar-benar ada.
Itulah ada yang tiada, presence in absence,
tubuh hadir, jiwa pergi entah ke mana,
buku terbuka tapi tak ada yang dibaca,
waktu berjalan, tak satu pun berbuat apa-apa.
Namun di sudut lain, jauh dari gerbang sekolah,
seorang guru duduk di meja rumahnya sendiri,
menyusun bahan ajar, membalas tanya murid,
menilai tugas yang dikirim lewat layar kecil.
Seorang murid pun demikian, di kamarnya yang sunyi,
membuka catatan, mengerjakan apa yang diminta,
bertanya lewat pesan, menanti jawaban guru,
tak hadir di sekolah, tapi hadir dalam belajar.
Itulah tiada yang ada, absence in presence,
jarak memisahkan raga, bukan memisahkan niat,
rumah menjadi kelas, layar menjadi papan tulis,
sunyi tanpa hadir, tapi penuh dengan makna.
Maka bertanyalah pada diri, hadirkah aku hari ini,
atau sekadar tubuh yang duduk tanpa arti,
sebab hadir sejati bukan soal ruang dan waktu,
melainkan hati yang bekerja, akal yang tetap menyala.
Sekolah bukan sekadar empat dinding dan atap,
belajar bukan sekadar duduk menghadap papan,
sebab yang ada bisa tiada, yang tiada bisa ada,
asal jiwa tetap bekerja untuk ilmu dan makna.
Narsisius Y. Paus, S.Fil.
Guru Agama Katolik dan Budi Pekerti, SMAN 2 Langke Rembong

Saat ini belum ada komentar